Medisinal Lover

Just another WordPress.com weblog

Infeksi Nosokomial May 7, 2010

Filed under: Farmasi Klinik — disti88 @ 4:22 pm

Bagi yang belum tau,berhati-hatilah jika terlalu lama berada di rumah sakit. Atau tak segera cuci tangan sehabis mengunjungi teman dirumah sakit. Karena bisa jadi kamu membawa infeksi nosokomial. Apa sih artinya? Berhubung saya anak pelayanan kefarmasian (yang mau UAS Farmasi Rumah Sakit), gregetan juga kalo nggak berbagi ilmu tentang farmasi klinik di RS. Biar kalian juga ikut merasakan penderitaan yang saya rasakan..wuahahaha…

Ups.. cekidot..

Infeksi Nosokomial adalah infeksi silang yang terjadi pada perawat atau pasien saat dilakukan perawatan di rumah sakit. Jenis yang paling sering adalah infeksi luka bedah dan infeksi saluran kemih dan saluran pernafasan bagian bawah (pneumonia). Tingkat paling tinggi terjadi di unit perawatan khusus, ruang rawat bedah dan ortopedi serta pelayanan obstetri (seksio sesarea). Tingkat paling tinggi dialami oleh pasien usia lanjut, mereka yang mengalami penurunan kekebalan tubuh (HIV/AIDS, pengguna produk tembakau, penggunaan kortikosteroid kronis), TB yang resisten terhadap berbagai obat dan mereka yang menderita penyakit bawaan yang parah.

Suatu infeksi pada penderita baru bisa dinyatakan sebagai infeksi nosokomial bila memenuhi beberapa kriteria/batasan tertentu :

a.  Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut.

b.  Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut.

c.  Tanda-tanda klinik infeksi tersebut baru timbul sekurang-kurangnya setelah 3 x 24 jam sejak mulai perawatan.

d.  Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya.

e.  Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi, dan terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial

Infeksi nosokomial memberikan dampak sebagai berikut :

  1. Menyebabkan cacat fungsional, stress emosional dan dapat menyebabkan cacat yang permanen dan kematian.
  2. Dampak tertinggi pada negara-negara sedang berkembang dengan prevalensi HIV/AIDS yang tinggi.
  3. Meningkatkan biaya kesehatan di berbagai negara yang tidak mampu dengan meningkatkan lama perawatan di rumah sakit, pengobatan dengan obat-obat mahal dan penggunaan layanan lain.

Bakteri yang menyebabkan infeksi nosokomial dapat masuk melalui berbagai rute:

Endogenous infection

Bakteri yang ada dalam flora normal menyebabkan infeksi karena transmisi ke tempat yang bukan habitatnya (saluran urin), merusak jaringan (luka) atau penggunaan antibiotik yang tidak tepat (menyebabkan pertumbuhan C. difficile, yeast spp.). Contohnya, bakteri gram-negatif pada saluran cerna sering menyebabkan infeksi luka operasi setelah operasi abdominal atau infeksi saluran urin pada pasien yang menggunakan kateter.

Exogenous cross-infection (Flora berasal dari pasien lain atau petugas kesehatan)

Bakteri ditransmisikan antar pasien:

  1. Melalui kontak langsung antar pasien (tangan, tetesan saliva atau cairan tubuh lainnya)
  2. Melalui udara (kontaminasi udara oleh bakteri yang berasal dari pasien)
  3. Kontaminasi dari petugas yang melakukan pelayanan kesehatan (tangan, baju, hidung dan tenggorokan) yang dapat menjadi carrier (pembawa) sementara atau tetap, yang langsung mentransmisikan bakteri kepada pasien lain melalui kontak langsung saat melakukan pelayanan kesehatan.
  4. Melalui objek yang terkontaminasi oleh pasien (alat kesehatan), tangan petugas, pengunjung atau dari sumber lainnya (contohnya air dan makanan)

Endemic atau epidemic exogenous environmental infections (Flora yang berasal dari lingkungan Rumah Sakit)

Beberapa tipe mikroorganisme dapat bertahan dengan baik di lingkungan rumah sakit:

  1. Pada air, area lembab dan biasanya pada produk steril atau desinfektan (Pseudomonas, Acinetobacter, Mycobacterium).
  2. Pada peralatan, seperti linen dan alat penunjang pelayanan kesehatan.
  3. Makanan
  4. Pada partikel yang keluar pada saat batuk atau bicara (bakteri yang diameternya lebih kecil dari 10 µm akan bertahan di udara selama beberapa jam dan dapat terhirup).

Fungsi Apoteker dalam Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit

Tanggung jawab apoteker dalam pengendalian infeksi di rumah sakit terkait dengan pengendalian infeksi nosokomial, peningkatan penggunaan yang rasional dari berbagai zat antimikroba dan edukasi.

1. Pengendalian Infeksi Nosokomial

Tanggung jawab apoteker dalam bidang ini, dapat dipenuhi melalui berbagai fungsi berikut:

  1. Berpartisipasi dalam berbagai urusan komite pengendalian infeksi (KPI) atau yang setara.
  2. Memberi petunjuk kepada rumah sakit, tentang seleksi dan penggunaan antiseptik, disinfektan, dan sterilan yang sesuai.
  3. Menetapkan berbagai kebijakan, prosedur, dan program pengendalian mutu internal IFRS untuk mencegah kontaminasi pada sediaan obat yang disiapkan atau dibuat dalam atau didispensing dari IFRS. Yang paling penting dalam bidang ini adalah pembuatan dan penanganan sediaan steril. Perhatian lain termasuk (tetapi tidak terbatas pada) ketentuan untuk pembersihan berbagai barang dari peralatan farmasetik (seperti kabinet laminar air flow, penampan dosis unit, peralatan pembuatan ruah dan penetapan kebijakan personel yang sesuai (misalnya, pembatasan kegiatan anggota staf yang menunjukkan gejala nyata pilek, influenza, atau kondisi menular lain).
  4. Mendorong penggunaan kemasan dosis tunggal obat steril sebagai pengganti wadah multidosis.
  5. Memberi rekomendasi berbagai kebijakan untuk frekuensi penggantian perlengkapan intravena dan alat pemberian intravena lain serta pembalut
  6. Memberi rekomendasi penyiapan sediaan steril dan wadah multi dosis yang tepat.

2. Meningkatkan Penggunaan Zat-Zat Antimikroba yang Rasional

Suatu tanggung jawab klinik apoteker adalah untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional dan berbagai zat antimikroba lainnya. Dalam hubungan dengan pengendalian infeksi, tanggung jawaba ini diperluas dengan penetapan tindakan untuk meminimalkan perkembangan strain mikroorganisme yang resisten, dan juga mengoptimasi kesempatan keberhasilan hasil (outcomes) terapi pada pasien individu.

Berbagai fungsi berkaitan dengan tanggung jawab ini mencakup:

  1. Bekerja di dalam struktur PFT untuk mengendalikan jumlah dan berbagai jenis antibiotika dan berbagai zat antimikroba lain yang diterima dalam formularium. Pertimbangan berbagai faktor terapi, mikrobiologi serta faktor keterbatasan biaya harus mempengaruhi keputusan penerimaan antimikroba dalam formularium.
  2. Bekerja sama dengan staf medis dalam menetapkan berbagai kebijakan berkaitan dengan penggunaan antibiotika profilaksis, pembatasan penggunaan antibiotika tertentu, dan berbagai kebijakan penggunaan obat lain berkaitan dengan antibiotika dan berbagai zat antimikroba lain.
  3. Menetapkan dan melaksanakan (bersama dengan staf medis) suatu program evaluasi penggunaan antibiotika konkuren dan prospektif terus menerus untuk mengkaji serta menyempurnakan mutu terapi antimikroba.
  4. Menghasilkan dan menganalisis data kuantitatif tentang penggunaan obat antimikroba.
  5. Bekerja dengan laboratorium mikrobiologi untuk meningkatkan uji penapisan sensitivitas mikroba dan melaporkan hasilnya.
  6. Bekerja dengan individu dan komite yang sesuai dalam rumah sakit yang bertanggung jawab untuk menyeleksi, mengendalikan perlengkapan intravena, alat infus, dan peralatan serta perlengkapan lain yang berkaitan dengan pemberian antibiotik intravena.

3. Kegiatan Edukasi


Tanggung jawab apoteker dalam bidang ini diperluas ke profesional kesehatan lain dan juga kepada pasien dan kepada masyarakat. Berbagai fungsi tertentu, mencakup:

1. Melaksanakan program edukasi inservice, konferensi klinik, dan berbagai jenis penyajian lain bagi profesional kesehatan tentang pokok pembicaraan yang sesuai, mencakup:

  • Terapi antimikroba
  • Berbagai zat dekontaminasi (desinfektan, antiseptik, dan sterilan)
  • Tehnik dan prosedur aseptik
  • Metode sterilisasi

2. Memberi edukasi dan konseling kepada PRT, pasien ambulatori, dan pasien rawat rumah (PRR) dalam bidang beriku

  • Pentingnya kepatuhan pada petunjuk tertulis untuk antibiotik (dan semua obat lain)
  • Informasi lain yang perlu untuk penggunaan obat yang aman dan sesuai (misalnya, apakah dikonsumsi atau tidak dengan makanan).
  • Instruksi tentang kondisi penyimpanan, termasuk obat yang digunakan melalui program perawatan rumah.
  • Prosedur pengendalian infeksi lain yang perlu dilaksanakan dalam suatu rumah tangga pasien rawat rumah (PRR)

3. Menetapkan dan melaksanakan berbagai kegiatan jaminan mutu terus menerus dan penyajian inservice bagi staf IFRS, tentang produk pembahasan yang sesuai, termasuk tetapi tidak terbatas pada:

  • Teknik dan prosedur aseptik
  • Metode sterilisasi
  • Pengendalian mutu lingkungan (misalnya, pengecekan kabinet laminar air flow), kabinet kabinet keselamatan biologis)

4. Berpartisipasi dalam edukasi kesehatan masyarakat dan kampanye kesadaran, berkenaan dengan pengendalian penyebaran penyakit menular.

 

PENGOBATAN BATUK May 2, 2010

Filed under: about me and my life — disti88 @ 2:40 pm
Tags:

Bukan.. bukan karena saya sedang batuk trus tiba-tiba jadi mosting artikel tentang batuk >,<

Tapi ini lebih dikarenakan tuntutan sebagai mahasiswi apoteker yang harus menyelesaikan tugas FARMAKOTERAPI. Ehem..besok saya presentasi, kawan. Doakan yaaaa.. ^.^

PENGOBATAN BATUK

Terapi batuk pertama-tama hendaknya ditujukan pada mencari dan mengobati penyebabnya, misalnya antibiotika terhadap infeksi bakterial dari saluran pernafasan (bronchitis). Kemudian baru dapat dipertibangkan apakah perlu diberikan terapi simtomatis guna meniadakan atau meringankan gejala batuk, dan haruslah diadakan perbedaan antara batuk produktif dan batuk non-produktif. Untuk pengobatan simtomatis ini terdapat zat-zat dengan mekanisme kerja yang beraneka-ragam.

Batuk produktif merupakan suatu mekanisme perlindungan dengan fungsi mengeluarkan zat-zat asing (kuman, debu, dan sebagainya) dan dahak dari batang tenggorokan. Maka, pada dasarnya, jenis batuk ini tidak boleh ditekan. Tetapi dalam prakteknya sering kali batuk hebat dapat mengganggu tidur dan melelahkan pasien, ataupun berbahaya, misalnya setelah pembedahan. Untuk meringankan dan mengurangi frekuensi batuk diberikan terapi simtomatis dengan obat-obat pereda batuk.

Di samping larangan merokok, biasanya dapat dilakukan pengobatan sebagai berikut:

    1. Uap air (mendidih) yang dihirup (inhalasi) guna memperbanyak sekret yang diproduksi di tenggorokan. Cara ini efektif dan murah, terutama pada batuk “dalam”, yakni bila rangsangan batuk timbulnya dari bawah pangkal tenggorokan. Seringkali minum banyak air juga dapat menghasilkan efek yang serupa. Yang juga meringankan batuk adalah menghirup uap menthol atau minyak atsiri, dengan catatan bahwa cara pengobatan ini tidak diberikan pada anak di bawah 2 tahun. Alasannya adalah kemungkinan terjadinya kejang larynx (laryngospasm) yang dapat membahayakan jiwa anak.
    2. Emolliensia (L. mollis = lunak), yaitu suatu zat yang dapat memperlnak rangsangan batuk, “memperlicin” tenggorokan agar tidak kering, dan melunakan selaput lendir yang teriritasi. Untuk tujuan ini, banyak digunakan sirop (Thymi dan Altheae), zat-zat lendir (Infus Carrageen), dan gula-gula, seperti drop (akar manis), permen, pastilles isap, dan sebagainya.
    3. Ekspektoransia, yaitu zat yang dapat memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan dengan demikian mengurangi kekentalannya, sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk, misalnya guaiakol, Radix Ipeca (dalam tablet/pulvis doveri), dan aminumklorida dalam Obat Batuk Hitam.
    4. Mukolitika: asetilsistein, karbosistein, mesna, bromheksin dan ambroksol.

Batuk non-produktif bersifat “kering” tanpa adanya dahak, misalnya pada batuk rejan (pertussis, kinkhoest), atau juga karena pengeluarannya memang tidak mungkin, seperti pada tumor. Batuk jenis ini tidak ada manfaatnya, maka haruslah dihentikan. Untuk maksud ini, tersedia obat-obat berdaya menekan rangsangan batuk, yaitu:

    1. Zat-zat pereda: kodein, noskapin, dekstrometorfan, dan pentoksiverin. Obat-obat ini dengan kerja sentral bekerja efektif, tetapi dapat menyebabkan ketagihan atau adiksi. Untungnya tidak ada satu obat pun yang dalam dosis terapeutis dapat menekan efleks batuk 100%, karena akan sangat berbahaya berhubung dapat timbulnya bronchopneumoni.
    2. Antihistaminika: prometazin, difenhidramin, dan d-klorfeniramin. Obat-obat ini sering kali efektif pula berdasarkan efek sedatifnya dan terhadap perasaan menggelitik di tenggorokan. Antihistaminika banyak digunakan terkombinasi dengan obat-obat batuk lain dalam bentuk sirop OTC.
    3. Anestetika lokal: pentoksiverin. Obat ini menghambat penerusan rangsangan batuk ke pusat batuk.

Additional:

Ada beberapa obat batuk yang diatur penggunannya pada kehamilan dan laktasi. Kodein, noskapin, dekstrometorfan boleh digunakan selama kehamilan dan laktasi, begitu pula mukolitika, amoniumklorida, dan Ipeca. Oksolamin dan mesna belum ada data cukup mengenai kemanannya. Pentoksiverin tidak boleh digunakan selama laktasi, karena mencapai air susu dan dapat mengakibatkan sesak napas pada bayi.